Membangkitkan Listrik dari Perut Bumi
Perut bumi ternyata menyimpan potensi listrik yang sangat besar.
Interaksi panas yang dihasilkan magma dan kandungan air di antara
lapisan batuan membentuk reservoir uap yang dapat digunakan untuk
menggerakkan turbin dan membangkitkan listrik dari generator. Dari 50
ribu megawatt potensinya di seluruh dunia, sekitar 40 persennya berada
di Indonesia.
Tidak berbeda dengan pembangkit listrik lainnya yang bertenaga uap, gas,
atau diesel, Pembangkit Listrik tenaga Panas Bumi (PLTP) menggunakan
tekanan uap air untuk menggerakkan turbin. Hanya saja uap air yang
dibutuhkan sudah diperoleh langsung dari perut bumi. "Seolah-olah
terdapat boiler (perebus air) di dalam perut bumi," kata Yuddy Setyo
Wicaksono, general manager PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan
Kamojang.
Uap air pada dasarnya terbentuk dari penguapan air di dalam perut Bumi.
Energi panas yang dimiliki uap air berasal dari magma bertemperatur
lebih dari 1.200 derajat Celcius. Panasnya mengalir melalui lapisan
batuan kedap air di atasnya yang disebut bedrock. Di atas bedrock itulah
terdapat lapisan aquifier berisi air yang berasal dari akumulasi
rembesan air hujan.
Air yang dipanaskan pada suhu tinggi cenderung menguap dan bergerak ke
atas karena berat jenisnya menurun. Tapi, karena di atas lapisan
aquifier terdapat lapisan caprock yang juga kedap air, maka uap air
terkurung dan membentuk reservoir uap bertekanan tinggi.
Saat dibuat lubang yang menembus lapisan batuan tersebut, uap akan
memancar dengan tekanan antara 3,5 hingga 4 bar dan suhu 140 derajat
Celcius. Aliran uap ini kemudian dialirkan melalui pipa-pipa dan diatur
untuk menggerakkan turbin. Mula-mula aliran uap dialirkan ke dalam steam
receiving header (penyimpan uap) yang mengatur alirannya agar konstan.
Selanjutnya uap dialirkan ke bagian penyaring untuk memisahkan zat-zat
padat, silika, dan bintik-bintik air yang terbawa sebagai cara
menghindari terjadinya vibrasi, erosi, dan pembentukan kerak pada
turbin.
Uap yang sudah bersih digunakan untuk menggerakkan turbin. Putaran
inilah yang akan menimbulkan interaksi elektromeganetik pada generator
sehingga membangkitkan listrik. Pada kecepatan 3.000 rotasi per menit,
proses ini menghasilkan listrik dengan arus tiga fasa, frekuensi 50
Hertz, dan tegangan 11,8 kilovolt.
Sekitar 3 persen produksi listriknya dipakai untuk memenuhi pasokan
energi bagi sistem pembangkit dan fasilitas di sekitarnya. Sedangkan
sebagian besar lainnya dikirimkan ke sistem interkoneksi PLN.
Menggunakan transformator step up, arus listrik dinaikkan tegangannya
hingga 150 kilovolt untuk dikirimkan melalui sambungan umum tegangan
ekstra tinggi (SUTET).
Agar turbin bekerja efisien, uap air harus segera dikondensasikan
sempurna. Sekitar 70 persen uap air yang terkondensasi akan menguap
selama proses pendinginan. Sedangkan 30 persen sisanya diinjeksikan
kembali ke dalam tanah. Selain untuk mengurangi pengaruh pencemaran
lingkungan, tambahan air diharapkan dapat mengisi kembali pasokan
reservoir.
Tapi, bukan berarti pembangkitan listrik dengan panas Bumi tidak
menghasilkan emisi gas berbahaya. Gas yang tidak terkondensasi harus
diekstraksi agar kandungan karbon dioksida, hidrogen sulfida, dan
nitrogen yang dilepas ke atmosfer tidak membahayakan lingkungan.
Meskipun demikian, emisi yang dihasilkan masih lebih rendah daripada
pembangkit bertenaga fosil (batubara dan gas).